• Posted by : Naurah Deatrisya Minggu, 19 Mei 2019

    TEKS ANEKDOT
    A. Pengertian dan Fungsi Teks Anekdot
    Salah satu cerita lucu yang banyak beredar di masyarakat adalah anekdot. Anekdot digunakan untuk menyampaikan kritik, tetapi tidak dengan cara yang kasar dan menyakiti. Anekdot ialah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan. Anekdot mengangkat cerita tentang orang penting (tokoh masyarakat) atau terkenal berdasarkan kejadian yang sebenarnya.
    Kejadian nyata ini kemudian dijadikan dasar cerita lucu dengan menambahkan unsur rekaan. Seringkali, partisipan (pelaku cerita), tempat kejadian, dan waktu peristiwa dalam anekdot tersebut merupakan hasil rekaan.

    Batasan anekdot
    Anekdot adalah sebuah cerita pendek yang berisi sebuah sindiran terhadap sesuatu atau seseorang yang dilengkapi dengan humor.
    Isi pokok anekdot
    Isi pokok dari sebuah teks anekdot adalah sebuah sindirian pada suatu hal atau pada seseorang.
    Fungsi anekdot
    Fungsi dari anekdot adalah sebuah hiburan atau intermezzo yang dilengkapi dengan sebuah sindiran terhadap suatu hal.

    B. Struktur Teks Anekdot

    Anekdot memiliki struktur teks yang membedakannya dengan teks lainnya. Teks anekdot memiliki struktur abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.
    1. Abstraksi merupakan pendahuluan yang menyatakan latar belakang atau gambaran umum tentang isi suatu teks.
    2. Orientasi merupakan bagian cerita yang mengarah pada terjadinya suatu krisis, konflik, atau peristiwa utama. Bagian inilah yang menjadi penyebab timbulnya krisis.
    3. Krisis atau komplikasi merupakan bagian dari inti peristiwa suatu anekdot. Pada bagian krisis itulah terdapat kekonyolan yang menggelitik dan mengundang tawa.
    4. Reaksi merupakan tanggapan atau respons atas krisis yang dinyatakan sebelumnya. Reaksi yang dimaksud dapat berupa sikap mencela atau menertawakan.
    5. Koda merupakan penutup atau simpulan sebagai pertanda berakhirnya cerita. Di dalamnya dapat berupa persetujuan, komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari cerita yang dipaparkan sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-kata, seperti itulah,akhirnya, demikianlah. Keberadaan koda bersifat opsional; bisa ada ataupun tidak ada.
    Contoh

    Aksi Maling Tertangkap CCTV
    Isi
    Struktur
    Seorang warga melapor kemalingan.
    Abstraksi
    Pelapor : “Pak saya kemalingan.”
    Polisi : “Kemalingan apa?”
    Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya beruntung Pak...”
    Orientasi
    Polisi : “Kemalingan kok beruntung?”
    Pelapor : “Iya pak. Saya beruntung karena CCTV merekam dengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas wajah malingnya.”
    Polisi : “Sudah minta izin malingnya untuk merekam?”
    Krisis
    Pelapor : “Belum .... “ (sambil menatap polisi dengan penuh keheranan.
    Polisi : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”
    Reaksi
    Pelapor : (hanya bisa pasrah tak berdaya).
    Koda

    C. Kebahasaan Teks Anekdot 
    Seperti juga teks lainnya, anekdot memiliki unsur kebahasaan yang khas yaitu (a) menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu, (b) menggunakan kalimat retoris, [kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban]; (c) menggunakan konjungsi [kata penghubung] yang menyatakan hubungan waktu seperti kemudian, lalu; (d) menggunakan kata kerja aksi seperti menulis, membaca, dan berjalan, ; (e) menggunakan kalimat perintah (imperative sentence); dan (f) menggunakan kalimat seru. Khusus untuk anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog, penggunaan kalimat langsung sangat dominan.

    No.
    Unsur Kebahasaan
    Contoh Kalimat
    1.
    Kalimat yang menyatakan
    peristiwa masa lalu
    Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang saksi.
    2.
    Kalimat retoris
    “Apakah benar,” teriak Jaksa, “bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?”
    3.
    Penggunaan konjungsi yang
    menyatakan hubungan waktu
    Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
    4.
    Penggunaan kata kerja aksi
    Saksi menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan.
    5.
    Penggunaan kalimat perintah
    “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
    6.
    Penggunaan kalimat seru
    “Oh, maaf.”

    D. Menyusun Teks Anekdot berdasarkan Kejadian yang Menyangkut Orang Banyak atau Perilaku Tokoh Publik

    Dalam menyusun anekdot, ada beberapa hal yang harus ditentukan lebih dulu. Hal tersebut adalah menentukan tema, kritik, kelucuan, tokoh, struktur, alur, dan pola penyajian teks anekdot. Langkah-langkah ini akan memudahkan untuk belajar menyusun anekdot. 
    Langkah-langkah penyusunan disajikan dalam bentuk tabel, dengan penyelesaian pada kolom ketiga.

    No.
    Aspek
    Isi
    1.
    Tema
    Kasih sayang pada orangtua.
    2.
    Kritik
    Anak yang memandang orangtua di masa tuanya
    sebagai orang yang merepotkan.
    3.
    Humor/
    kelucuan
    Orang dewasa malu karena dikritik oleh anak kecil.
    4.
    Tokoh
    Kakek tua, ayah, anak dan menantu.
    5.
    Struktur
    Abstraksi
    Kakek tua yang tinggal bersama anak,
    menantu dan cucu 6 tahun.
    Orientasi
    Kebiasaan makan malam di rumah
    si anak. Kakek tua makannya sering
    berantakan.
    Krisis
    Kakek tua diberi meja kecil terpisah di
    pojok, dengan alat makan anti pecah.
    Reaksi
    Cucu 6 tahun membuat replika
    meja terpisah.
    Koda
    Cucu 6 tahun mengungkapkan kelak akan
    membuat meja terpisah juga
    untuk ayah dan ibunya.
    7
                Alur
    Kakek tua tinggal bersama anak, menantu dan cucunya yang
    berusia 6 tahun. Karena sudah tua, mata si Kakek rabun dan
    tangannya bergetar sehingga kerap menjatuhkan makanan dan
    alat makan. Agar tidak merepotkan, ia ditempatkan di meja
    terpisah dengan alat makan anti pecah. Anak dan menantunya
    baru sadar ketika diingatkan oleh cucu 6 tahun yang tengah
    bermain membuat replika meja.
    8
    Pola
    penyajian
    Narasi.

    Teks
    anekdot
    Seorang kakek hidup serumah bersama anak, menantu, dan cucu berusia 6 tahun. Keluarga itu biasa makan malam bersama. Si kakek yang sudah pikun sering mengacaukan segalanya. Tangan bergetar dan mata rabunnya membuat kakek susah menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh. 
    Saat si kakek meraih gelas, sering susu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya menjadi gusar. Suami istri itu lalu menempatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan, tempat sang kakek makan sendirian. Mereka memberikan mangkuk melamin yang tidak gampang pecah. Saat keluarga sibuk dengan piring masing-masing, sering terdengar ratap kesedihan dari sudut ruangan. Namun, suami-istri itu justru mengomel agar kakek tak menghamburkan makanan lagi.
    Sang cucu yang baru berusia 6 tahun mengamati semua kejadian itu dalam diam. 
    Suatu hari si ayah memerhatikan anaknya sedang membuat replika mainan kayu. 
    “Sedang apa, sayang?” tanya ayah pada anaknya. 
    “Aku sedang membuat meja buat ayah dan ibu. 
    Persiapan buat ayah dan ibu bila aku besar nanti.” 
    Ayah anak kecil itu langsung terdiam. 
    Ia berjanji dalam hati, mulai hari itu, kakek akan kembali diajak makan di meja yang sama. Tak akan ada lagi omelan saat piring jatuh, makanan tumpah, atau taplak ternoda kuah.
    Sumber: J. Sumardianta, Guru Gokil Murid Unyu. Halaman 47. (dengan penyesuaian)

    E. Pola Penyajian Anekdot

    Anekdot dapat disajikan dalam bentuk dialog maupun narasi. Salah satu ciri dialog adalah menggunakan kalimat langsung. Kalimat langsung adalah sebuah kalimat yang merupakan hasil kutipan langsung dari pembicaraan seseorang yang sama persis seperti apa yang dikatakannya.

    Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
    Dialog
    Narasi
    Pada puncak pengadilan korupsi politik,
    Jaksa penuntut umum menyerang saksi.
    Jaksa : “Apakah benar, bahwa anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam
    kasus ini?”
    Saksi : (menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan)
    Jaksa : “Apakah benar, bahwa anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam
    kasus ini?”
    Saksi : (tidak menanggapi)
    Hakim : “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
    Saksi : (kaget) “Oh, maaf. Saya piker dia tadi berbicara dengan Anda.”
    Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang saksi.
    “Apakah benar,” teriak Jaksa, “bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?”
    Saksi menatap keluar jendela seolaholah tidak mendengar pertanyaan.
    “Bukankah benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam kasus ini?” ulang pengacara.
    Saksi masih tidak menanggapi.
    Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
    “Oh, maaf.” Saksi terkejut sambil berkata kepada hakim, “Saya pikir dia tadi berbicara dengan Anda.”

    TEKS NEGOSIASI

    Pengertian negosiasi

    Negosiasi adalah bentuk interaksi sosial yang berfungsi untuk mencapai kesepakatan di antara pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang berbeda. Atau negosiasi menurut KBBI adalah proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dengan pihak lainnya. 

    Negosiasi berasal dari bahasa inggris (negotiate) yang artinya perundingan dengan strategi khusus. Strategi-strategi dalam negosiasi - win-win strategy (strategi menang-menang) - win-lose strategy (strategi menang-kalah) - lose-lose strategy (strategi kalah-kalah) 

    Kapan harus bernegosiasi? Ibarat sebuah persahabatan, negosiasi memerlukan trik dan strategi. Sifat manusia umumnya tidak mau kalah, tidak mau dipaksa dan tidak mau ditindas. Oleh karena itu win-win solution adalah jalan dan pilihan terbaik. Mengetahui cara bernegosiasi yang benar sangat menguntungkan posisi kita dibidang sosial, lebih-lebih dibidang bisnis.

     Lalu kapan sebenarnya upaya negosiasi diperlukan? Upaya negosiasi diperlukan apabila : 1. Kita tidak mempunyai pilihan yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi atau mendapatkan sesuatu yang kita inginkan

    Struktur isi teks negosiasi

    Struktur teks negosiasi Dalam dialog negosiasi antara pihak satu dan pihak dua dalam mencapai kesepakatan (bukan jual beli) terdiri dari tiga bagian yaitu pembukaan, isi dan penutup, sebagai berikut: 

    1. Pembukaan, contohnya: Selamat pagi/siang/sore; saya Paula....... 

    2. Isi, contohnya: Karyawan telah bekerja keras demi perusahaan,tetapi kami merasa kurang mendapatkan imbalan yang pantas. Kami tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya dengan uang Rp.2.000.000. paling tidak kami menerima upah sebesar Rp.3.000.000 

    3. Penutup, Contohnya: Terimakasih Pak,selamat sore. 

    Sedangkan dalam teks dialog negosiasi antara penjual dan pembeli di pasar mempunyai struktur teks sebagai berikut:
    1. Orientasi : Pembukaan atau awalan dari percakapan sebuah negosiasi. Biasanya berupa kata salam, sapa dan sebagainya. 
    2. Permintaan : Di mana pihak yang ingin tahu menanyakan suatu barang atau permasalahan yang dihadapi. 
    3. Pemenuhan : Pihak yang terkait memberitahukan mengenai barang atau obyek agar orang yang diajak interaksi oleh pihak tersebut menjadi lebih paham.
    4. Penawaran : Suatu puncak dari negosiasi karena terjadi proses tawar menawar pihak satu dengan pihak yang lain untuk mendapat sebuah kesepakatan yang menguntungkan satu sama lain.
    5. Persetujuan : Kesepakatan atas hasil penawaran dari kedua belah pihak. 
    6. Pembelian : Terjadinya transaksi jual beli antara masing- masing pihak terkait. 
    7. Penutup : Mengakhiri dari sebuah percakapan antara kedua pihak untuk menyelesaikan suatu proses interaksi dalam negosiasi.

    Sedangkan dalam teks dialog negosiasi antara pengusaha dan pihak bank, mempunyai struktur teks yaitu: 
    1. Orientasi 
    2. Pengajuan
    3. Penawaran 
    4. Persetujuan 
    5. Penutup

    Jadi kesimpulannya adalah, struktur teks negosiasi tidak ada yang baku, sangat tergantung sekali apa yang dinegosiasikan.

    Yang harus dihindari selama negosiasi adalah menghindari hal-hal yang dapat merugikan kedua belah pihak, sehingga untuk menghindari hal tersebut negosiasi perlu dilakukan dengan  cara-cara yang santun seperti:
    • Menyesuaikan pembicaraan ke arah tujuan praktis
    • Mengakomodir butir-butir perbedaan diantara kedua belah pihak
    • Mengajukan pandangan baru dan mengabaikan pandangan yang sudah ada tanpa memalukan kedua belah pihak
    • Mengalokasikan tugas dan tanggung jawab kedua belah pihak
    • Memprioritaskan dan mengelompokan saran atau pendapat kedua belah pihak  

    Ciri Umum teks negosiasi

    Adapun secara umum ciri dari teks negosiasi adalah sebagai berikut:

    • Negosiasi menghasilkan kesepakatan. 
    • Negosiasi menghasilkan keputusan yang saling menguntungkan. 
    • Negosiasi merupakan sarana untuk mencari penyelesaian atau jalan tengah. 
    • Negosiasi mengarah kepada tujuan praktis. 
    • Negosiasi memprioritaskan kepentingan bersama.
    • Negosiasi menyangkut suatu rencana yang belum terjadi
    • Negosiasi selalu melibatkan dua belah pihak
    • Negosiasi merupakan kegiatan komunikasi langsung.
    • Teks negosiasi biasanya dalam bentuk dialog atau diubah menjadi monolog

    Langkah-langkah penulisan teks negosiasi sebagai berikut.

    Agar anda dapat membuat teks negosiasi dengan lebih mudah, maka salah satu metode yang digunakan adalah dengan pendekatan langkah-langkah penyusunan teks negosiasi, sebagai berikut:

    • Menentukan tujuan
    • Menentukan pihak-pihak yang berkaitan
    • Menentukan konflik
    • Menentukan solusi dalam penawaran
    • Menentukan model kesepakatan

    Ciri kebahasaan teks negosiasi

    Sedangkan kaidah kebahasaan atau ciri kebahasaan teks negosiasi adalah sebagai berikut:

    1. Bahasa persuasif
    Bahasa persuasif yaitu bahasa yang digunakan untuk membujuk atau menarik perhatian. Misalnya: dalam kalimat “bagus itu, Mam. Cocok untuk dipakai sendiri atau untuk suvenir.”

    2. Kalimat deklaratif
    Kalimat yang disampaikan adalah kalimat yang berisi pernyataan, yang berfungsi untuk memberikan informasi atau berita tentang sesuatu.

    3. Bahasa yang sopan
    Gunakan bahasa yang sopan sehingga antara kedua belah pihak agar terjadi komunikasi yang baik untuk mencapai negosiasi yang sukses.

    4. Menggunakan konjungsi. 
    Contoh : Kalau bagitu, meskipun, walaupun.  Menggunakan kalimat deklaratif

    5. Menggunakan kalimat yang efektif
    Kalimat efektif adalah kalimat yang padat, singkat, jelas, lengkap, dan dapat menyampaikan informasi secara tepat. Jelas, artinya mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca. Tepat, dapat sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku.

    6. Berisi pasangan tuturan
    Apa itu tuturan? Tuturan adalah kalimat yang diujarkan oleh seseorang untuk menyampaikan maksud tertentu. Tuturan merupakan bentuk komunikasi lisan seseorang kepada mitra tutur dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang sering menuturkan sesuatu kepada mitra tutur. Tuturan adalah pemakaian satuan bahasa seperti kalimat atau sebuah kata oleh seorang penutur tertentu pada situasi tertentu. Dalam teks negosiasi tuturan berupa dialog yang berarti dilakukan oleh dua orang atau lebih.

    Contoh pasangan tuturan dalam teks negosiasi :
    • Mengucapkan salam - membalas salam
    • Bertanya - menjawab/tidak menjawab 
    • Meminta tolong - memenuhi/menolak permintaan 
    • Menawarkan - memenuhi/menolak tawaran 
    • Mengusulkan - menerima/menolak usulan Pasangan tuturan yang terdapat dalam negosiasi

    7. Bersifat memerintah dan memenuhi perintah. 

    8. Menggunakan pronomina. 
    atau kata ganti adalah jenis kata yang menggantikan nomina atau frasa nomina. Contoh : Saya, kami, anda. 

    9. Menggunakan kalimat langsung. 
    Kalimat langsung adalah kalimat yang menirukan ucapan atau ujaran orang lain.

    10. Menggunakan kalimat yang menyatakan kesepatan atau tidak.

    11. Menggunakan kalimat perbandingan/kontras.

    Contoh teks Negosiasi

    Berikut adalah salah satu contoh teks negosiasi:

    Contoh #1 :
    Siang itu di pasar Klewer, seperti biasa terjadi kegiatan jual beli. Anton yang sedang berekreasi ingin membelikan oleh- oleh untuk ibunya. Dia ingin membelikan kerudung. Terjadilah tawar menawar antara Anton dan Penjual kerudung.

    Penjual : Selamat siang.
    Anton : Selamat siang

    Penjual : Mau beli apa mas?
    Anton : Ini mbak mau beli kerudung untuk ibu saya.

    Penjual : Cari yang modelnya bagaimana, Mas?
    Anton : Yang biasa saja mbak. Penjual : Silakan mas kesini
    17. Sesampainya di dalam toko...

    Penjual : Silakan mas dipilih, banyak pilihannya.
    Anton : Saya suka yang hijau mbak, kalo dilihat segar.

    Penjual : Iya mas. Cocok kalo dipakai oleh ibu mas.
    Anton : Ini berapa mbak?

    Penjual : Rp 50.000,00.
    Anton : Wah, kok mahal mbak? Rp 30.000,00 tidak boleh?

    Penjual : Tidak boleh mas, itu bahannya bagus soalnya.
    Anton : Tidak bisa kurang mbak?

    Penjual : Rp 45.000,00 boleh mas.
    Anton : Rp 40.000,00 ya mbak? Ini untuk oleh-oleh ibu saya.

    Penjual : Benar-benar tidak boleh mas. Nanti toko saya bisa bangkrut.
    Anton : Ya sudah mbak Rp 45.000,00, saya ambil yang ini.

    Penjual : Mau beli apa lagi mas?
    Anton : Itu saja mbak. Ini uangnya mbak.

    Penjual : Uangnya Rp 50.000,00 , kembali Rp 5.000,00. Terimakasih mas.
    Anton : Iya mbak, sama-sama.


    Contoh #2:
    Contoh teks negosiasi Teks negosiasi meminjam peralatan Selepas dari kegiatan mengajar, Pak.Amru ingin berkemah sore ini. Tetapi ia tidak memiliki peralatan untuk berkemah. Dengan tak berfikir panjang, ia langsung menghubungi temannya yang memiliki peralatan kemah.

    Pak. Amru : Halo, Assalamualaikum
    Bu. Piti : waalaikumsalam. Iya, Am. Ada apa?

    Pak.Amru : Ini, Pit. Sore ini aku ingin berkemah. Apa aku boleh meminjam peralatan berkemah milikmu?
    Bu. Piti : Ya, tentu saja boleh. Memang akan dipinjam sampai berapa lama?

    Pak. Amru : Ya..kira-kira 1 minggu, Pit. Bagaimana?
    Bu. Piti : Wah, kalau 1 minggu tidak bisa, Am. Mungkin hanya bisa 3 hari.

    Pak. Amru : Apa tidak bisa lebih lama? Bagaimana kalau 5 hari ?
    Bu. Piti : Mungkin 4 hari cukup, Am.

    Pak. Amru : Baiklah, 4 hari saja. Oke?
    Bu. Piti : Oke, kapan kamu mengambil peralatannya?

    Pak. Amru : setelah ini aku akan pergi ke rumahmu dan mengambilnya. Terimakasih, Pit. Assalamualaikum.
    Bu. Piti : sama-sama. Waalaikumsalam Akhirnya pak. Amru mengambil peralatan kemah tersebut, dengan kesepakatan akan dikembalikan setelah 4 hari kemudian.

    TEKS HIKAYAT
    1.       PENGERTIAN
    Hikayat adalah salah satu jenis cerita rakyat yang
    disajikan dengan menonjolkan unsur penceritaan berciri kemustahilan dan kesaktian tokoh-tokohnya.

    2.       KARAKTERISTIK/CIRI-CIRI HIKAYAT
    Hikayat merupakan sebuah teks narasi yang berbeda dengan narasi lain. Adapun karakteristik/ciri-ciri  hikayat antara lain (a) terdapat kemustahilan dalam cerita, (b) kesaktian tokoh-tokohnya, (c) anonim, (d) istana sentris, dan (e) menggunakan alur berbingkai/cerita berbingkai.
    a.       Kemustahilan
    Salah satu ciri hikayat adalah kemustahilan dalam teks, baik dari segi bahasa maupun dari segi cerita. Kemustahilan berarti hal yang tidak logis atau tidak bisa dinalar.
    b.       Kesaktian
    Selain kemustahilan, seringkali dapat kita temukan kesaktian para tokoh dalam hikayat.
    c.        Anonim
    Anonim berarti tidak diketahui secara jelas nama pencerita atau pengarang. Hal tersebut disebabkan cerita disampaikan secara lisan. Bahkan, dahulu masyarakat mempercayai bahwa cerita yang disampaikan adalah nyata dan tidak ada yang sengaja mengarang.
    d.       Istana Sentris
    Maksudnya hikayat seringkali bertema dan berlatar kerajaan.

    3.       NILAI-NILAI DALAM HIKAYAT
    Hikayat banyak memiliki nilai kehidupan. Nilai-nilai kehidupan tersebut dapat berupa nilai religius (agama), moral, budaya, sosial, edukasi (pendidikan), dan estetika (keindahan).

    4.       UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DALAM HIKAYAT
    a.       Unsur Intrinsik
    Unsur intrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, seperti: (a) tema, (b) tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa.
    b.       Unsur Ekstrinsik
    Unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri yang menyangkut sosiologi, psikologi, dan lain-lain.

    5.       KATA ARKAIS (KUNO)
    Hikayat merupakan karya sastra klasik, artinya usia hikayat jauh lebih tua dibandingkan usia Negara Indonesia. Meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia (berasal dari bahasa Melayu), tidak semua kata dalam hikayat dapat dijumpai dalam bahasa Indonesia sekarang. Kata-kata yang sudah jarang digunakan atau bahkan sudah asing tersebut disebut sebagai kata arkais.

    6.       GAYA BAHASA DAN KONJUNGSI
    a.       Gaya Bahasa (Majas)
    Penggunaan gaya bahasa (majas) dalam hikayat berfungsi untuk membuat cerita lebih menarik jika dibandingkan menggunakan bahasa yang bermakna lugas. Ada beberapa gaya bahasa (majas) yang sering digunakan dalam hikayat yaitu:
    1)       Antonomasia
    Antonomasia adalah penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, gelar resmi, dan jabatan. Contoh: Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
    2)       Metafora
    Metafora adalah analogi yang membandingkandua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Contoh: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.
    3)       Hiperbola
    Hiperbola merupakan gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan. Contoh: Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir meledak aku.
    4)       Perbandingan atau Simile
    Perbandingan atau Simile adalah gaya bahasa (majas) yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya menggunakan kata penghubung atau kata pembanding. Contoh: seperti, laksana, bak dan bagaikan.
    b.       Konjungsi (Kata Penghubung)

    Konjungsi yang digunakan dalam hikayat menggunakan konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan kejadian dalam menceritakan peristiwa atau alur. Contoh: “Pada... Sebelum... Lalu...”, “Ketika... Selanjutnya...

    RESENSI

    Pengertian Resensi

    Resensi adalah suatu penilaian terhadap sebuah karya. Karya yang dimaksud disini bisa berupa berupa buku dan karya seni film dan drama.
    Menulis resensi terdiri dari kelebihan, kekurangan dan informasi yang diperoleh dari buku dan disampaikan kepada masyarakat.

    Unsur-unsur Resensi

    Terdapat unsur-unsur yang harus dipenuhi sehingga dapat dikatakan utuh, berikut ini unsur-unsurnya:
    1. Judul
    Judul semestinya harus mempunyai kesinambungan dengan isi resensi. Selain itu, judul yang menarik memberikan nilai lebih tersendiri.
    2. Menyusun Data Buku
    Penyusunan data buku dapat dilakukan sebagai berikut:
    • Judul buku;
    • Pengarang;
    • Penerbit;
    • Tahun terbit beserta cetakannya;
    • Dimensi buku;
    • Harga buku;
    3. Isi Resensi Buku
    Bagian ini berisi mengenai sinopsis, ulasan singkat buku dengan kutipan singkat dan keunggulan serta kelemahan buku, rumusan kerangka buku dan bahasa yang digunakan.
    4. Penutup Resensi Buku
    Pada bagian penutup biasanya berisi alasan kenapa buku tersebut ditulis dan kepada siapa buku tersebut ditujukan.
    Menurut saya, resensi ini hampir serupa dengan teks ulasan. Saya sarankan kamu membacanya juga.

    Jenis-jenis Resensi

    Secara garis besar resensi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
    1. Informatif, disini resensi disampaikan secara singkat dan umum dari keseluruhan isi buku.
    2. Deskriptif, yaitu resensi yang membahas secara detail pada setiap bagian atau bab nya.
    3. Kritis, yaitu resensi yang mengulas detail buku menggunakan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Isi resensi biasanya objektif dan kritis dalam menilai isi buku.
    Tetapi bisa saja ketiga jenis resensi diatas diterapkan secara bersama-sama karena ketiganya tidak baku.

    Tujuan Resensi

    Perlu kita ketahui bahwa tujuan resensi diantaranya sebagai berikut:
    • Mengetahui kelebihan dan kekurangan buku yang di resensi.
    • Memberikan gambaran kepada pembaca dan penilaian umum dari sebuah karya secara ringkas.
    • Memberikan masukan kepada penulis berupa kritis dan saran terhadap isi, substansi, cara penulisan buku.
    • Mengetahui latar belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan.
    • Menguji kualitas buku dan membandingkan terhadap karya lainnya.

    Manfaat Resensi

    1. Bahan Pertimbangan
    Memberikan gambaran kepada pembaca mengenai suatu karya dan mempengaruhi mereka atas karya tersebut.
    2. Sarana Promosi Buku
    Buku yang di-resensi biasanya adalah buku baru yang belum pernah di-resensi. Sehingga dengan melakukan hal ini bisa menjadi salah satu bentuk promosi buku sehingga terkenal dan banyak terjual.
    3. Pengembangan Kreativitas
    Seperti yang kita ketahui bahwa semakin sering menulis semakin baik tingkat keahlian kita, sehingga dengan rajin meresensi secara tidak langsung bisa mengembangkan kreativitas menulis.
    4. Nilai Ekonomis
    Dan hal yang mungkin tidak kamu bayangkan adalah dengan meresensi buku kita bisa mendapatkan imbalan berupa uang atau lainnya. Lumayan kan!

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © Media Pembelajaran Online Naurah Deatrisya - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -