• Posted by : Naurah Deatrisya Minggu, 19 Mei 2019

    MAKNA
    Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984:19).

    Kata-kata yang bersal dari dasar yang sama sering menjadi sumber kesulitan atau kesalahan berbahasa, maka pilihan dan penggunaannya harus sesuai dengan makna yang terkandung dalam sebuah kata. Agar bahasa yang dipergunakan mudah dipahami, dimengerti, dan tidak salah penafsirannya, dari segi makna yang dapat menumbuhkan resksi dalam pikiran pembaca atau pendengar karena rangsangan aspek bentuk kata tertentu.

    Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan pengertian makna kata, yakni makna donatif, makna konotatif, makna leksikal, makna gramatikal.

    Makna Denotatif

    Sebuah kata mengandung kata denotatif, bila kata itu mengacu atau menunjukan pengertian atau makna yang sebenarnya. Kata yang mengandung makna denotative digunakan dalam bahasa ilmiah, karena itu dalam bahasa ilmiah seseorang ingin menyampaikan gagasannya. Agar gagasan yang disampaikantidak menimbulkan tafsiran ganda, ia harus menyampaikan gagasannya dengan kata-kata yang mengandung makna denotative.

    Makna denotatif ialah makna dasar, umum, apa adanya, netral tidak mencampuri nilai rasa, dan tidak berupa kiasan Maskurun (1984:10).

    Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit maka wajar, yang berarti mkna kat ayang sesuai dengan apa adanya, sesuai dengan observasi, hasil pengukuran dan pembatasan (perera, 1991:69).
    Makna denotatif didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu diluar bahasa atau didasarkan atas konvensi tertentu (kridalaksana, 1993:40).

    Berdasarkan pendapat diatas, maka penulis simpulkan bahwa makna denotative adalah makna yang sebenarnya, umum, apa adanya, tidak mencampuri nilai rasa, dan tidak berupa kiasan. Apabila seseorang mengatakan tangan kanannya sakit, maka yang dimaksudkan adalah tangannya yang sebelah kanan sakit.

    Makna Konotatif

    Sebuah kata mengandung makna konotatif, bila kata-kata itu mengandung nilai-nilai emosi tertentu. Dalam berbahasa orang tidak hanya mengungkap gagasan, pendapat atau isi pikiran. Tetapi juga mengungkapakan emosi-emosi tertentu. Mungkin saja kata-kata yang dipakai sama, akan tetapi karena adanya kandungan emosi yang dimuatnya menyebabkan kata-kata yang diucapkan mengandung makna konotatif disamping mkna denotatif.

    Makna konotatif adalah makna yang berupa kiasan atau yang disertai nilai rasa, tambahan-tambahan sikap sosial, sikap pribadi sikap dari suatu zaman, dan criteria-kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.

    Seperti kata kursi, kursi disini bukan lagi tempat duduk, melaikan suatu jabatan atau kedudukan yang ditempati oleh seseorang. Kursi diartikan sebagai tempat duduk mengandung makna lugas atau makna denotatif. Kursi yang diartikan suatu jabatan atau kedudukan yang diperoleh seseorang mengandung makna kiasan atau makna konotatif.

    Makna Leksikal

    akna Leksikal ialah makna kata seperti yang terdapat dalam kamus, istilah leksikal berasal dari leksikon yang berarti kamus. Makna kata yang sesuai dengan kamus inilah kata yang bermakna leksikal. Misalnya : Batin (hati), Belai (usap), Cela (cacat).

    Makna Gramatikal 

    Makna gramatikal adalah makna kata yang diperoleh dari hasil perstiwa tata bahasa, istilah gramatikal dari kata grammar yang artinya tata bahasa. Makna gramatikal sebagau hasil peristiwa tata bahasa ini sering disebut juga nosi. Misalnya : Nosi-an pada kata gantungan adalah alat.

    Makna Asosiatif

    Makna asosiatif mencakup keseluruhan hubungan makna dengan nalar diluar bahasa. Ia berhubungan dengan masyarakat pemakai bahasa, pribadi memakai bahasa, perasaan pemakai bahasa, nilai-nilai masyarakat pemakai bahasa dan perkembangan kata sesuai kehendak pemakai bahasa. Makna asositif dibagi menjadi beberapa macam, seperti makna kolokatif, makna reflektif, makna stilistik, makna afektif, dan makna interpretatif.

    1. Makna Kolokatif 

    Makna kolokatif lebih berhubungan dengan penempatan makna dalam frase sebuah bahasa. Kata kaya dan miskin terbatas pada kelompok farase. Makna kolokatif adalah makna kata yang ditentukan oleh penggunaannya dalam kalimat. Kata yang bermakna kolokatif memiliki makna yang sebenarnya.

    2. Makna Reflektif

    Makna reflektif adalah makna yang mengandung satu makna konseptual dengan konseptual yang lain, dan cenderung kepada sesuatu yang bersifat sacral, suci/tabu terlarang, kurang sopan, atau haram serta diperoleh berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman sejarah.

    3. Makna Stilistika

    Makna stilistika adalah makna kata yang digunakan berdasarkan keadaan atau situasi dan lingkungan masyarakat pemakai bahasa itu. Sedangkan bahasa itu sendiri merupakan salah satu cirri pembeda utama dari mahluk lain didunia ini. Mengenai bahasa secara tidak langsung akan berbicara mempelajari kosa kata yang terdapat dalam bahasa yang digunakan pada eaktu komunikasi itu.

    4. Makna Afektif

    Makna ini biasanya dipakai oleh pembicara berdasarkan perasaan yang digunakan dalam berbahasa.

    5. Makna interpretatif 

    Makna interpretatif adalah makna yang berhubungan dengan penafsiran dan tanggapan dari pembaca atau pendengar, menulis atau berbicara, membaca atau mendengarkan (parera,1991:72).

    HIKAYAT
    1.       PENGERTIAN
    Hikayat adalah salah satu jenis cerita rakyat yang
    disajikan dengan menonjolkan unsur penceritaan berciri kemustahilan dan kesaktian tokoh-tokohnya.

    2.       KARAKTERISTIK/CIRI-CIRI HIKAYAT
    Hikayat merupakan sebuah teks narasi yang berbeda dengan narasi lain. Adapun karakteristik/ciri-ciri  hikayat antara lain (a) terdapat kemustahilan dalam cerita, (b) kesaktian tokoh-tokohnya, (c) anonim, (d) istana sentris, dan (e) menggunakan alur berbingkai/cerita berbingkai.
    a.       Kemustahilan
    Salah satu ciri hikayat adalah kemustahilan dalam teks, baik dari segi bahasa maupun dari segi cerita. Kemustahilan berarti hal yang tidak logis atau tidak bisa dinalar.
    b.       Kesaktian
    Selain kemustahilan, seringkali dapat kita temukan kesaktian para tokoh dalam hikayat.
    c.        Anonim
    Anonim berarti tidak diketahui secara jelas nama pencerita atau pengarang. Hal tersebut disebabkan cerita disampaikan secara lisan. Bahkan, dahulu masyarakat mempercayai bahwa cerita yang disampaikan adalah nyata dan tidak ada yang sengaja mengarang.
    d.       Istana Sentris
    Maksudnya hikayat seringkali bertema dan berlatar kerajaan.

    3.       NILAI-NILAI DALAM HIKAYAT
    Hikayat banyak memiliki nilai kehidupan. Nilai-nilai kehidupan tersebut dapat berupa nilai religius (agama), moral, budaya, sosial, edukasi (pendidikan), dan estetika (keindahan).

    4.       UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DALAM HIKAYAT
    a.       Unsur Intrinsik
    Unsur intrinsik ialah unsur yang menyusun sebuah karya sastra dari dalam yang mewujudkan struktur suatu karya sastra, seperti: (a) tema, (b) tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa.
    b.       Unsur Ekstrinsik
    Unsur ekstrinsik ialah unsur yang membentuk karya sastra dari luar sastra itu sendiri yang menyangkut sosiologi, psikologi, dan lain-lain.

    5.       KATA ARKAIS (KUNO)
    Hikayat merupakan karya sastra klasik, artinya usia hikayat jauh lebih tua dibandingkan usia Negara Indonesia. Meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia (berasal dari bahasa Melayu), tidak semua kata dalam hikayat dapat dijumpai dalam bahasa Indonesia sekarang. Kata-kata yang sudah jarang digunakan atau bahkan sudah asing tersebut disebut sebagai kata arkais.

    6.       GAYA BAHASA DAN KONJUNGSI
    a.       Gaya Bahasa (Majas)
    Penggunaan gaya bahasa (majas) dalam hikayat berfungsi untuk membuat cerita lebih menarik jika dibandingkan menggunakan bahasa yang bermakna lugas. Ada beberapa gaya bahasa (majas) yang sering digunakan dalam hikayat yaitu:
    1)       Antonomasia
    Antonomasia adalah penggunaan sebuah epiteta untuk menggantikan nama diri, gelar resmi, dan jabatan. Contoh: Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
    2)       Metafora
    Metafora adalah analogi yang membandingkandua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Contoh: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.
    3)       Hiperbola
    Hiperbola merupakan gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan. Contoh: Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir meledak aku.
    4)       Perbandingan atau Simile
    Perbandingan atau Simile adalah gaya bahasa (majas) yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya menggunakan kata penghubung atau kata pembanding. Contoh: seperti, laksana, bak dan bagaikan.
    b.       Konjungsi (Kata Penghubung)

    Konjungsi yang digunakan dalam hikayat menggunakan konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan kejadian dalam menceritakan peristiwa atau alur. Contoh: “Pada... Sebelum... Lalu...”, “Ketika... Selanjutnya...




    PUISI KONTEMPORER

    Pengertian Puisi Kotemporer

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kontemporer mempunyai arti pada masa kini, waktu kini. Sehingga pengertian puisi kontemporer yaitu suatu puisi yang dibuat pada waktu kini, atau penciptaanya pada masa sekarang. Puisi ini tidak memiliki ikatan bentuk dan irama, selain itu yang membuat kekinian adalah kebebasan si pembuat puisi dalam menciptakannya.
    Adapun beberapa tokoh yang mempunyai perang penting dalam puisi kontemporer di negara Indonesia yaitu:
    • Sutardji Calzoum Bachri, yang terkenal dengan karyanya yang berjudul O, Amuk, dan juga O Amuk Kapak
    • Hamid Jabbar, yang terkenal dengan karyanya didalam kumpulan puisi Wajah Kita
    • Ibrahim Sattah, yang terkenal dengan karyanya didalam kumpulan puisi Hai Ti
    Puisi kontemporer arahnya lebih kepada puisi yang mementingkan bentuk grafis atau fisik (bunyi) untuk mengutarakan perasaan si penyair. Tugas seorang penyair disni adalah merangkai kata agar menimbulkan bunyi yang bisa didengar dengan indah.
    Terkadang pada puisi kontemporer, penggunaan kata kurang diperhatikan kesantunan bahanya. Menggunakan kata kasar, ejekan dan lain-lain. Jadi puisi ini bisa juga diartikan dengan puisi yang keluar pada masa kini (modern) yang bentuk serta gayanya tidak mengikuti kaidah-kaidah puisi umumnya, dan mempunyai ciri yang berbeda pula dengan puisi lain.

    Ciri-Ciri Puisi Kontemporer

    Dalam puisi kontemporer terdapat beberapa ciri-ciri antara lain:
    • Seringkali menyatukan beberapa kata atau kalimat bahasa Indonesia dengan kata atau kalimat bahasa asing ataupun bahasa daerah hingga bahasa dialek.
    • Ada banyak terjadi pengulangan kata, frasa, atau kelompok kata sehingga membuat puisi ini tidak wajar.
    • Kekerasan/kemerduan bunyi sangat diperhatikan
    • Seringkali memamaki idiom-idiom yang tidak konvensional (inkonvensional) atau yang tidak lazim
    • Banyak terjadi kemacetan bunyinya, dan nyaris tidak dapat dibaca dikarenakan kadang hanya tampak tanda tanya yang disejajarkan
    • Tipografi atau bentuk tulisan pada puisi ini unik
    • Memakai gaya bahasa pararelisme yang digabungkan dengan gaya bahasa hiperbola

    Jenis-Jenis Puisi Kontemporer

    Adapun jenis atau macam-macam dari puisi kontemporer adalah sebagai berikut:
    1. Puisi Mbeling

      Secara umum, puisi mbeling terdapat unsur-unsur humor didalamnya, bercorak kelakar. Didalamnya juga seringkali ada unsur kritik, terutama kritik sosial.
    2. Puisi Idiom Baru

      Puisi idiom baru tetap memakai kata sebagai alat ekspresinya, tetapi kata tersebut dinyatakan dengan cara baru, dan diberi nyawa baru.
    3. Puisi Suprakata

      Puisi suprakata yaitu jenis puisi kontemporer yang memakai kata-kata konvensional yang di tukar-tukar atau mencitptakan kata-kata baru yang sebelumnya tidak ada kosakatanya dalam bahasa Indonesia. Jenis puisi ini mementingkan ritme dan bunyi
    4. Puisi Tipografi

      Puisi tipografi adalah salah satu jenis puisi kontemporer yang melihat bentuk atau tampak fisik yang dapat memperkuat puisi.
    5. Puisi Multi Lingual

      Puisi multilingual adalah jenis puisi kontemporer yang memakai kata atau kalimat dari berbagai bahasa, baik bahasa asing ataupun bahasa daerah.
    6. Puisi Mini Kata

      Puisi mini kata adalah jenis puisi kontemporer yang memakai kata-kata yang jumlahnya sedikit, dilengkapi dengan simbol lain yaitu seperti huruf, garisan titik, atapun simbol lain.
    7. Puisi Tanpa Kata

      Puisi tanpa kata adalah jenis puisi kontemporer yang tidak memakai kata sama sekali sebagai cara mengekspresikannya, tetapai memakai titik-titik, garis, huruf atau simbol lain.
    8. Puisi Mantra

      Puisi mantra adalah suatu jenis puisi kontemporer yang berhubungan dengan salah satu jenis pusi lama, yaitu mantra. Puisi mantra penyajiannya berhubungan dengan dunia misteri, memberikan efek kemajuran. Puisi ini diperkenalkan oleh Sutardji Calzoum Bachri.

    Unsur Puisi Kontemporer

    Dalam puisi kontemporer, ada beberapa unsur yang menonjol yaitu:
    • Unsur bunyi

      Adanya penekanan rima dan pengulanan
    • Unsur Tipografi

      Yaitu susunan baris atau baitnya serta cara penulisan huruf
    • Enjambemen

      Yaitu pemotongan kalimat atau frase
    • Unsur Kelakar


    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © Media Pembelajaran Online Naurah Deatrisya - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -