Posted by : Naurah Deatrisya
Minggu, 16 Juni 2019
TEORI MASUKNYA AGAMA HINDU KE INDONESIA
1. Teori Brahmana
Teori Brahmana dikemukakan oleh Van Leur. Menurutnya, agama hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh para pendeta ( pemuka agama ). Namun, teori ini memiliki kelemahan yaitu : Pemuka agama atau pendeta di larang keluar dan meninggalkan negeri.
Peraturan ini berlaku dan di pegang teguh oleh para penganut agama Hindu di India. Dengan demikian, tidak mungkin bahwa pendeta yang menyebarkan agama Hindu di Indonesia.
2. Teori Ksatria / Teori Kolonosasi
Teori Ksatria dikemukakan oleh Majumdar, Moekerji dan Nehru. Para ahli ini berpendapat bahwa agama hindu masuk ke indonesia karena dibawa oleh para prajurit India yang melakukan ekspansi ( perluasan wilayah kekuasaan kerajaan ).
Tapi, teori ini memiliki kelemahan yaitu : tidak ada tanda atau bukti peninggalan sejarah yang menunjukkan bahwa India pernah menaklukkan Indonesia.
3. Teori Waisya
Teori Waisya dikemukakan oleh Krom. Menurutnya, masuknya agama hindu di Indonesia dibawa oleh para pedagang yang melakukan perdagangan dan pelayaran ke Indonesia. Hal ini dilandasi keterangan bahwa Indonesia sudah menjadi jalur pelayaran dan perdagangan India-Cina sejak tahun 500 SM.
Dalam pelayaran dan perdagangan inilah diperkirakan bahwa ara pedagang singgah di wilayah Indonesia dan menyebarkan agama Hindu kepada masyarakat Indonesia.
4. Teori Sudra
Teori Sudra dikemukakan oleh banyak orang. Dalam teori ini, dinyatakan bahwa agama hindu dibawa masuk ke indonesia oleh kaum sudra ( kaum buruh dan pekerja kasar ) yang ingin merubah nasib mereka.
5. Teori Nasional
Teori Nasional ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch. Menurutnya, perkembangan agama Hindu di Indonesia karena adanya peran aktif dari masyarakat Indonesia. Dinyatakan juga bahwa, setelah dinobatkan sebagai seorang hindu, mereka kemudian giat menyebarkan agama hindu serta segala amalannya. Teori ini juga dilandasi dengan temuan adanya unsur-unsur kebudayaan India budaya Indonesia.
Menurutnya, pada masa itu telah terbentuk golongan cendikiawan di dalam masyarakat Indonesia yang disebut “Clerk”. Proses akulturasi antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat India disebut sebagai proses penyuburan.
Hal yang dilakukan oleh kamu Brahmana ( Pendeta ) di Indonesia dalam rangka penghinduan, antara lain :
a. Abhiseka, yaitu upacara penobatan raja
b. Vratyastoma, yaitu upaca penyucian diri ( upacara pemberian kasta )
c. Kulapanjika, yaitu memberikan silsilah raja
d. Castra, yaitu cara membuat mantra
6. Teori Arus Balik
Menurut teori ini, bangsa indonesia bukan hanya menerima kebudayaan, ilmu pengetahuan serta ilmu agama. Namun, bangsa Indonesia juga menjelajah dan mencari ilmu agama ke negeri lain yang kemudian menyebarkan ilmu agama dan kepercayaan yang mereka dapatkan tersebut kepara masyarakat di wilayahnya setelah mereka kembali ke tanah air atau kampung halamannya.
Adapun teori mengenai perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha India di Asia, khususnya di Nusantara, sebagai berikut.
1. Kerajaan Kalingga di India pada abad ke-3 ditaklukkan Raja Ashoka dari Arya sehingga banyak warganya yang bermigrasi ke Indonesia.
2. Invasi (penguasaan) suku Khusana ke Indonesia menyebabkan banyak warganya yang bermigrasi ke Indonesia.
3. Coedes berpendapat bahwa kontak hinduisme ke Nusantara terjadi karena adanya larangan mencari emas ke Siberia oleh Kaisar Vespasianus. Oleh karena itu, para pedagang India mencari emas ke Swarnadwipa (Sumatra).
1. Kerajaan Kalingga di India pada abad ke-3 ditaklukkan Raja Ashoka dari Arya sehingga banyak warganya yang bermigrasi ke Indonesia.
2. Invasi (penguasaan) suku Khusana ke Indonesia menyebabkan banyak warganya yang bermigrasi ke Indonesia.
3. Coedes berpendapat bahwa kontak hinduisme ke Nusantara terjadi karena adanya larangan mencari emas ke Siberia oleh Kaisar Vespasianus. Oleh karena itu, para pedagang India mencari emas ke Swarnadwipa (Sumatra).
Bukti adanya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia sebagai berikut.
1. Adanya arca Buddha bergaya amarawati (gaya India Selatan) di Sempaga, Sulawesi Selatan, dan di Jember. Arca di Sempaga merupakan yang tertua. Selain itu, ditemukan pula arca bergaya gandhara (India Utara) di Bukit Siguntang (Sumatra Selatan) dan Kota Bangun, Kutai.
2. Adanya prasasti berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta di Kutai dan Tarumanegara.
3. Adanya penganut agama Hindu dan Buddha di Indonesia.
4. Berkembangnya seni patung di Indonesia.
5. Penggunaan istilah warman sebagai nama raja seperti di India.
6. Munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha.
7. Penggunaan bahasa Sanskerta dan tulisan Pallawa dalam kehidupan masyarakat.
1. Adanya arca Buddha bergaya amarawati (gaya India Selatan) di Sempaga, Sulawesi Selatan, dan di Jember. Arca di Sempaga merupakan yang tertua. Selain itu, ditemukan pula arca bergaya gandhara (India Utara) di Bukit Siguntang (Sumatra Selatan) dan Kota Bangun, Kutai.
2. Adanya prasasti berhuruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta di Kutai dan Tarumanegara.
3. Adanya penganut agama Hindu dan Buddha di Indonesia.
4. Berkembangnya seni patung di Indonesia.
5. Penggunaan istilah warman sebagai nama raja seperti di India.
6. Munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha.
7. Penggunaan bahasa Sanskerta dan tulisan Pallawa dalam kehidupan masyarakat.
Seperti yang sudah kita tahu, ada 6 teori masuknya hindu-budha ke indonesia. Masing masing teori pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas kelebihan dan kelemahan masing masing teori
- Teori Brahmana
Kelebihan Teori Brahmana
- Agama Hindu adalah milik kaum Brahmana sehingga merekalah yang paling tahu dan paham mengenai ajaran agama Hindu. Urusan keagamaan merupakan monopoli kaum Brahmana bahkan kekuasaan terbesar dipegang oleh kaum Brahmana sehingga hanya golongan Brahmana yang berhak dan mampu menyiarkan agama Hindu.
- Prasasti Indonesia yang pertama menggunakan berbahasa Sanskerta, sedangkan di India sendiri bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan. Bahasa Sanskerta adalah bahasa kelas tinggi sehingga tidak semua orang dapat membaca dan menulis bahasa Sanskerta. Di India hanya kasta Brahmana yang menguasai bahasa Sanskerta sehingga hanya merekalah yang dapat dan boleh membaca kitab suci Weda.
- Karena Raja-raja yang ada di Indonesia kedudukannya ingin diakui dan kuat seperti Raja-raja di India maka mereka dengan sengaja mendatangkan kaum Brahmana dari India untuk mengadakan upacara penobatan dan mensahkan kedudukan mereka di Indonesia sebagai Raja. Dan mulailah dikenal istilah kerajaan. Karena upacara penobatan tersebut secara Hindu maka secara otomatis Raja juga dinyatakan beragama Hindu, jika Raja beragama Hindu maka rakyatnya pun akan mengikuti Raja.
- Ketika menobatkan Raja, kaum Brahmana pasti membawa kitab Weda ke Indonesia. Sebelum kembali ke India tak jarang para Brahmana tersebut akan meninggalkan Kitab Weda sebagai hadiah bagi Raja. Kitab tersebut selanjutnya akan dipelajari oleh Raja dan digunakan untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia.
- Karena Raja telah mengenal Brahmana maka secara khusus Raja juga meminta Brahmana untuk mengajar di lingkungan istananya. Dari hal inilah maka agama dan budaya India dapat berkembang di Indonesia.
Kelemahan Teori Brahmana
- Menurut ajaran Hindu kuno, seorang Brahmana dilarang untuk menyeberangi lautan apalagi meninggalkan tanah airnya. Jika ia melakukan hal tersebut maka ia akan kehilangan hak akan kastanya. Sehingga mendatangkan para Brahmana ke Indonesia bukan merupakan hal yang wajar.
- Mempelajari bahasa Sanskerta merupakan hal yang sangat sulit jadi tidak mungkin dilakukan oleh Raja-raja di Indonesia yang telah mendapat kitab Weda untuk mengetahui isinya bahkan menyebarkan pada yang lain, sehingga pasti memerlukan bimbingan kaum Brahmana.
2. Teori Waisya
Kelebihan teori Waisya:
Banyaknya sumber daya alam di Indonesia membuat para Waisya (kelompok pedagang) tertarik untuk bertransaksi jual beli di Indonesia. Pada saat itu, kebanyakan pedagang yang datang ke Indonesia berasal dari India yang merupakan pusat agama hindu, sehingga ketika mereka berdagang, mereka juga menyebarkan ajaran agama Hindu dan Buddha.
Kelemahan teori Waisya:
Para pedagang yang termasuk dalam kasta Waisya tidak menguasai bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa yang umumnya hanya dikuasai oleh kasta Brahmana.
Bantahan para ahli terhadap teori waisya:
- Motif mereka datang sekedar untuk berdagang bukan untuk menyebarkan agama Hindu sehingga hubungan yang terbentuk antara penduduk setempat bahkan pada raja dengan para saudagar (pedagang India) hanya seputar perdagangan dan tidak akan membawa perubahan besar terhadap penyebaran agama Hindu.
- Mereka lebih banyak menetap di daerah pantai untuk memudahkan kegiatan perdagangannya. Mereka datang ke Indonesia untuk berdagang dan jika mereka singgah mungkin hanya sekedar mencari perbekalan untuk perjalanan mereka selanjutnya atau untuk menunggu angin yang baik yang akan membawa mereka melanjutkan perjalanan. Sementara itu kerajaan Hindu di Indonesia lebih banyak terletak di daerah pedalaman seperti Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Sehingga, penyebarluasan agama Hindu tidak mungkin dilakukan oleh kaum Waisya yang menjadi pedagang.
- Meskipun ada perkampungan para pedagang India di Indonesia tetapi kedudukan mereka tidak berbeda dengan rakyat biasa di tempat itu, mereka yang tinggal menetap sebagaian besar hanyalah pedagang-pedagang keliling sehingga kehidupan ekonomi mereka tidak jauh berbeda dengan penduduk setempat. Sehingga pengaruh budaya yang mereka bawa tidaklah membawa perubahan besar dalam tatanegara dan kehidupan keagamaan masyarakat setempat.
- Kaum Waisya tidak mempunyai tugas untuk menyebarkan agama Hindu sebab yang bertugas menyebarkan agama Hindu adalah Brahmana. Lagi pula para pedagang tidak menguasai secara mendalam ajaran agama Hindu dikarenakan mereka tidak memahami bahasa Sansekerta sebagai pedoman untuk membaca kitab suci Weda.
- Tulisan dalam prasasti dan bangunan keagamaan Hindu yang ditemukan di Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang hanya digunakan oleh Kaum Brahmana dalam kitab-kitab Weda dan upacara keagamaan.
3. Teori Campuran
- Kelebihan : Ada kemungkinaan para bangsawan di Indonesia pergi ke India untuk belajar agama Hindu-Budha dan Budaya, tujuanya agar dengan ilmu yang mereka dapat dari india, para bangsawan bisa membuat kekuasaan di Indonesi dengan mencotoh kebudayan Hindu-Budha
- Kelemahan : Kemungkinaan orang Indonesia untuk belejar agama Hindu-Budha ke india sulit, karena pada masa itu oran indonesia masih bersifat pasif.
4. Teori Arus Balik
Kelebihan :Ada kemungkinan orang di Indonesia pergi ke India untuk belajar agama & kebudayaan Hindu-Buddha, tujuannya agar dengan ilmu yang mereka dapat dari India, para bangsawan bisa membuat kekuasaan di Indonesia dengan mencontoh kebudayaan Hindu-Buddha di India.
Kelemahan: Pada teori arus balik ini, sepertinya tidak mungkin jika orang Indonesia pergi ke India untuk belajar agama & budaya Hindu-Buddha karena pada saat itu masyarakat Indonesia masih bersifat pasif, jadi tidak mungkin orang Indonesia belajar ke India untuk menuntut ilmu agama & budaya Hindu-Buddha kemudian mereka kembali ke Indonesia untuk menyebarkan ilmu mereka.
5. Teori Ksatria
Ada tiga ahli mengemukakan pendapatnya tentang kelebihan dari teori Ksatria yaitu C>C. Berg,Mokerji dan Moens
a. C.C Berg
Mengemukakan bahwa para ksatria ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Mereka dijanjikan akan di beri hadiah apabila menang, yaitu dinikahkan dengan seorang putri dari kepala suku yang dibantunya. Dari perkawinan ini, tradisi hindu berkembang dengan mudah.
b. Mookerji
Mengemukakan bahwa para ksatria ini membangun koloni-koloni yang akhirnya berkembang menjadi kerajaan dan menjalin hubungan dengan kerajaan India.
c. J.L. Moens
Mengemukakan bahwa pada abad ke-5, banyak para ksatria yang melarikan diri karena peperangan di India. Para ksatria yang berasal dari keluarga kerajaan mendirikan kerajaan baru di Indonesia.
Kelemahan: Para ksatria tidak menguasai bahasa sanskerta dan huruf dan pallawa. Apabila daerah Indonesia pernah menjadi taklukan kerajaan-kerajaan India, pastinya ada prasasti. Sedangkan di Indonesia tidak ada satupun prasasti yang menjelaskan bahwa daerah Indonesia pernah menjadi taklukan kerajaan-kerajaan India.
a. C.C Berg
Mengemukakan bahwa para ksatria ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Mereka dijanjikan akan di beri hadiah apabila menang, yaitu dinikahkan dengan seorang putri dari kepala suku yang dibantunya. Dari perkawinan ini, tradisi hindu berkembang dengan mudah.
b. Mookerji
Mengemukakan bahwa para ksatria ini membangun koloni-koloni yang akhirnya berkembang menjadi kerajaan dan menjalin hubungan dengan kerajaan India.
c. J.L. Moens
Mengemukakan bahwa pada abad ke-5, banyak para ksatria yang melarikan diri karena peperangan di India. Para ksatria yang berasal dari keluarga kerajaan mendirikan kerajaan baru di Indonesia.
Kelemahan: Para ksatria tidak menguasai bahasa sanskerta dan huruf dan pallawa. Apabila daerah Indonesia pernah menjadi taklukan kerajaan-kerajaan India, pastinya ada prasasti. Sedangkan di Indonesia tidak ada satupun prasasti yang menjelaskan bahwa daerah Indonesia pernah menjadi taklukan kerajaan-kerajaan India.
6. Teori Sudra
Kelebihan
- Semua orang yang ada pada kasta Sudra pasti ingin memperbaiki hidup, salah satu caranya adalah pergi ke tempat lain seperti Indonesia
Kelemahan
- Tidak mengusai bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa
- Kasta Sudra umumnya tidak memiliki ilmu pengetahuan/pendidikan
- Biasanya jika ada budak maka ada tuannya,maka jika pastilah ada kasta yang lebih tinggi dari sudra yang membawa kasta Sudra ke Indonesia.
TEORI MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
Sedikitnya ada 5 teori masuknya Islam di Indonesia yang berkembang di kalangan sejarawan saat ini. Kelima teori tersebut mengungkapkan tentang asal mula Islam berkembang di Nusantara. Ada teori yang menyebut bila penyebaran Islam di Indonesia berasal dari Gujarat, India; Makkah, Arab Saudi; Persia; dan ada pula yang beranggapan Islam Indonesia berasal dari China.
1. Teori Gujarat
Teori Gujarat adalah teori yang menyatakan bahwa Islam masuk di Indonesia berasal dari Gujarat, India. Teori ini pertama kali dicetuskan oleh dua orang sejarawan berkebangsaan Belanda, Snouck Hurgronje dan J.Pijnapel. Menurut mereka, Islam masuk ke Indonesia sejak awal abad ke 13 Masehi bersama dengan hubungan dagang yang terjalin antara masyarakat Nusantara dengan para pedagang Gujarat yang datang.Teori masuknya Islam di Indonesia yang dicetuskan Hurgronje dan Pijnapel ini didukung oleh beberapa bukti, di antaranya batu nisan Sultan Samudera Pasai Malik As-Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Islam Gujarat, catatan Marcopolo, serta adanya warna tasawuf pada aliran Islam yang berkembang di Indonesia.
Selain memiliki bukti, teori ini juga mempunyai kelemahan. Kelemahan teori Gujarat ditunjukan pada 2 sangkalan. Pertama, masyarakat Samudra Pasai menganut mazhab Syafii, sementara masyarakat Gujarat lebih banyak menganut mazhab Hanafi. Kedua, saat islamisasi Samudra Pasai, Gujarat masih merupakan Kerajaan Hindu.
Selain memiliki bukti, teori ini juga mempunyai kelemahan. Kelemahan teori Gujarat ditunjukan pada 2 sangkalan. Pertama, masyarakat Samudra Pasai menganut mazhab Syafii, sementara masyarakat Gujarat lebih banyak menganut mazhab Hanafi. Kedua, saat islamisasi Samudra Pasai, Gujarat masih merupakan Kerajaan Hindu.
2. Teori Persia
Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat sebagai pencetus sekaligus pendukung teori Persia menyatakan bahwa Islam yang masuk di Indonesia pada abad ke 7 Masehi adalah Islam yang dibawa kaum Syiah, Persia.
Teori ini didukung adanya beberapa bukti pembenaran di antaranya kesamaan budaya Islam Persia dan Islam Nusantara (seperti adanya peringatan Asyura dan peringatan Tabut), kesamaan ajaran Sufi, penggunaan istilah persia untuk mengeja huruf Arab, kesamaan seni kaligrafi pada beberapa batu nisan, serta bukti maraknya aliran Islam Syiah khas Iran pada awal masuknya Islam di Indonesia.
Dengan banyaknya bukti pendukung yang dimiliki, teori ini sempat diterima sebagai teori masuknya Islam di Indonesia yang paling benar oleh sebagian ahli sejarah. Akan tetapi, setelah ditelisik, ternyata teori ini juga memiliki kelemahan. Bila dikatakan bahwa Islam masuk pada abad ke 7, maka kekuasaan Islam di Timur Tengah masih dalam genggaman Khalifah Umayyah yang berada di Damaskus, Baghdad, Mekkah, dan Madinah. Jadi tidak memungkinkan bagi ulama Persia untuk menyokong penyebaran Islam secara besar-besaran ke Nusantara.
Dengan banyaknya bukti pendukung yang dimiliki, teori ini sempat diterima sebagai teori masuknya Islam di Indonesia yang paling benar oleh sebagian ahli sejarah. Akan tetapi, setelah ditelisik, ternyata teori ini juga memiliki kelemahan. Bila dikatakan bahwa Islam masuk pada abad ke 7, maka kekuasaan Islam di Timur Tengah masih dalam genggaman Khalifah Umayyah yang berada di Damaskus, Baghdad, Mekkah, dan Madinah. Jadi tidak memungkinkan bagi ulama Persia untuk menyokong penyebaran Islam secara besar-besaran ke Nusantara.
3. Teori Arab atau Teori Makkah
Teori Arab atau Teori Makkah menyatakan bahwa proses masuknya Islam di Indonesia berlangsung saat abad ke 7 Masehi. Islam dibawa para musafir Arab yang memiliki semangat untuk menyebarkan Islam ke seluruh belahan dunia. Tokoh yang mendukung teori ini adalah Van Leur, Anthony H. Johns, T.W Arnold, dan Buya Hamka.
Teori masuknya Islam di Indonesia ini didukung beberapa 3 bukti utama. Pertama, pada abad ke 7 Masehi, di Pantai Timur Sumatera memang telah terdapat perkampungan Islam khas dinasti Ummayyah, Arab. Lalu, madzhab yang populer kala itu khususnya di Samudera Passai adalah madzhab Syafii yang juga populer di Arab dan Mesir. Dan yang ketiga, adanya penggunaan gelar Al Malik pada raja-raja Samudera Pasai yang hanya lazim ditemui pada budaya Islam di Mesir.
Hingga kini, teori Arab dianggap sebagai teori yang paling kuat. Kelemahannya hanya terletak pada kurangnya fakta dan bukti yang menjelaskan peran Bangsa Arab dalam proses penyebaran Islam di Indonesia.
Teori masuknya Islam di Indonesia ini didukung beberapa 3 bukti utama. Pertama, pada abad ke 7 Masehi, di Pantai Timur Sumatera memang telah terdapat perkampungan Islam khas dinasti Ummayyah, Arab. Lalu, madzhab yang populer kala itu khususnya di Samudera Passai adalah madzhab Syafii yang juga populer di Arab dan Mesir. Dan yang ketiga, adanya penggunaan gelar Al Malik pada raja-raja Samudera Pasai yang hanya lazim ditemui pada budaya Islam di Mesir.
Hingga kini, teori Arab dianggap sebagai teori yang paling kuat. Kelemahannya hanya terletak pada kurangnya fakta dan bukti yang menjelaskan peran Bangsa Arab dalam proses penyebaran Islam di Indonesia.
4. Teori China
Teori China yang dicetuskan oleh Slamet Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby baru baru ini menyebutkan bahwa, Islam masuk ke Indonesia karena dibawa perantau Muslim China yang datang ke Nusantara.
Teori ini didasari pada beberapa bukti yaitu fakta adanya perpindahan orang-orang muslim China dari Canton ke Asia Tenggara, khususnya Palembang pada abad ke 879 M; adanya masjid tua beraksitektur China di Jawa; raja pertama Demak yang berasal dari keturunan China (Raden Patah); gelar raja-raja demak yang ditulis menggunakan istilah China; serta catatan China yang menyatakan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Nusantara pertama kali diduduki oleh para pedagang China.
Teori ini didasari pada beberapa bukti yaitu fakta adanya perpindahan orang-orang muslim China dari Canton ke Asia Tenggara, khususnya Palembang pada abad ke 879 M; adanya masjid tua beraksitektur China di Jawa; raja pertama Demak yang berasal dari keturunan China (Raden Patah); gelar raja-raja demak yang ditulis menggunakan istilah China; serta catatan China yang menyatakan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Nusantara pertama kali diduduki oleh para pedagang China.
5. Teori Maritim
Teori Maritim pertama kali dicetuskan sejarawan asal Pakistan, N.A. Baloch. Teori ini menyatakan bahwa penyebaran Islam di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari kemampuan umat Islam dalam menjelajah samudera. Tidak dijelaskan darimana asal Islam yang berkembang di Indonesia, yang jelas menurut teori ini, masuknya Islam di Indonesia terjadi di sekitar abad ke 7 Masehi.
SUMBER SEJARAH DAN BERITA MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
Sumber sejarah dan berita masuknya Islam di Indonesia terbagi menjadi dua, yakni sumber luar negeri dan sumber dalam negeri. Sumber luar negeri terbagi lagi menjadi empat. Pertama, berita dari Tiongkok melalui catatan Ma-Huan, sekitar 1400 M. Sumber tersebut menyebutkan terdapat pedagang pedagang-pedagang Islam yang bertempat tinggal di Pantai Utara Pulau Jawa.
Lalu, sumber kedua ialah berita Arab. Sumber tersebut menyebutkan sekitar abad ke-7 M, para pedagang Islam yang berasal dari wilayah Timur Tengah telah melakukan kegiatan dagang di Sriwijaya. Terdapat panggilan Sribuza, Zabay, dan Zabag untuk penamaan Sriwijaya.
Sumber ketiga ialah berita Eropa. Sumber tersebut menjadi dua sumber utama, yakni catatan Marcopolo dan catatan Tome Pires. Dalam catatan Marcopolo, dituliskan bahwa saat ia singgah di Perlak, ia menemukan masyarakat setempat yang sudah beragama Islam. Selain itu, terdapat pula banyaknya pedagang dari Gujarat yang menyebarkan Islam sekitar abad ke-13 M.
Lalu, sumber dari Tome Pires, mengenai Islam di Indonesia dapat dibaca dalam buku berjudul Suma Oriental. Dalam buku itu, Pires menuliskan bahwa sebagian besar raja-raja di Sumatra sudah memeluk agama Islam.
Dan, sumber terakhir ialah sumber berita India. Dalam berita India disebutkan bahwa terdapat para pedagang yang berasal dari Gujarat yang melakukan aktivitas dagang dan juga penyebaran agama Islam di sekitar pesisir pantai.
Sedangkan, untuk sumber dalam negeri terbagi menjadi enam bukti sumber. Pertama, adanya batu nisan Fatimah binti Maemun yang berangka 745 Hijriah (1082 M) di Leren, Gresik, Jawa Timur. Peninggalan batu nisan tersebut dapat menjadi bukti peninggalan Islam sudah masuk ke wilayah Indonesia.
Sumber bukti kedua ialah batu nisan Sultan Malik Al-Shaleh yang berangka 696 Hijriah (1297 M). Peninggalan tersebut menunjukkan bahwa terdapat penamaan Sultan sebagai gelar seorang raja. Sultan Malik Al-Shaleh adalah raja dari kerajaan Samudra Pasai.
Bukti sumber ketiga ialah rangkaian batu nisan yang terdapat di sekitar Trowulan dan Trolaya, Jawa Timur yang berangka 1376-1611 M. Serangkaian batu nisan itu ditemukan dekat situs Majapahit dan menunjukkan adanya tanda-tanda berkembangnya agama Islam.
Lalu, bukti sumber keempat ialah makam Syekh Maulana Malik Ibrahim yang berangka 1419 M yang didatangkan dari Gujarat dan berisi tentang tulisan-tulisan Arab. Bukti kelima ialah batu nisan Sultan Pledir yang pertama berangka 1497 M, yaitu Muzafar Syah dan Sultan kedua bernama Makruf Syah berangka 1511 M. Dan, bukti keenam ialah batu nisan Sultan Aceh pertama bernama Ali Mughayat Syah berangka 1530 M.
KESULTANAN PEUREULAK (PERLAK)
Kesultanan Peureulak atau Perlak merupakan kerajaan bercorak Islam pertama di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatra. Kesultanan ini muncul pada abad ke-9 M dan bertahan hingga abad ke-13 M. Kesultanan Perlak merupakan salah satu kerajaan Islam di Indonesia yang terdapat dalam catatan Marcopolo.
Dalam catatan itu, Perlak disebutkan sebagai daerah dengan masyarakat yang sudah memeluk agama Islam dan banyak pedagang-pedagang Islam. Dalam catatannya, Marcopolo menyebutkan dirinya singgah di Perlak pada tahun 1292 M.
Selain catatan Marcopolo, ada beberapa sumber lain yang di dalamnya mengisahkan Kesultanan Perlak. Sumber pertama ialah naskah Indharatul haq hamlakatil ferlah wal fasi karya Abu Ishaq Makaroni Al Fasi dan sumber kedua ialah naskah Tazkirah Thabakat Jumu Sultan As Salatin karya Sayid Abdullah ibn Saiyid Habib Saifudin.
Raja pertama Kesultanan Perlak ialah Sultan Alaidin Saiyidin Maulana Abdul Azis Syah. Ia memerintah Perlak dari 846 M hingga 864 M. Kesultanan ini berakhir pada masa pemerintahan raja ke 16, yakni Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah Jouhan yang memerintah dari 1225 M hingga 1263 M.
KESULTANAN SAMUDRA PASAI
Kesultanan Samudra Pasai merupakan kerajaan yang terletak di sebelah utara Perlak, di daerah Pantai Timur Aceh (saat ini menjadi daerah Lhokseumawe). Kerajaan ini berdiri pada abad ke-13, sekitar 1267 M. Samudra Pasai dibentuk oleh Meurah Silu yang merupakan nama lain dari Sultan Malik al-Saleh sebelum memeluk Islam.
Sumber sejarah mengenai Samudra Pasai ada dua sumber utama. Pertama, catatan Ibnu Batutah, penjelajah asal Delhi, India. Ketika ia melakukan perjalanan ke Tiongkok, Ibnu Batutah singgah di Samudra Pasai pada tahun 1346 M.
Dalam catatannya, Ibnu Batutah memberikan keterangan bahwa Samudra Pasai adalah kerajaan yang memiliki struktur pemerintahan serupa dengan kerajaan-kerajaan di India. Selain itu, saat ia berada di Tiongkok, Ibnu Batutah melihat kapal milik Sultan Pasai.
Sumber kedua ialah catatan Marcopolo. Dalam catatannya, selain menyebutkan mengenai Kesultanan Perlak, Marcopolo juga menyebutkan tentang Kesultanan Samudra Pasai. Ia menyebutkan Kerajaan Samudra Pasai sebagai salah satu kerajaan Islam.
Raja pertama kerajaan ini ialah Sultan Malik al-Saleh yang memerintah sejak tahun 1290 hingga 1297 M. Pada masa pemerintahannya, Samudra Pasai tengah naik daun sebagai sebuah kerajaan Islam dan berhasil menguasai Selat Malaka, yang kala itu merupakan pusat perdagangan internasional.
Lalu, raja terakhir Samudra Pasai ialah Sultan Zainal Abidin ke-5. Pada masa pemerintahannya, Samudra Pasai mengalami kemunduran karena invasi dari Kerajaan Majapahit. Kemunduran itu kemudian dimanfaatkan oleh Kerajaan Aceh yang akhirnya menaklukkan kerajaan tersebut.
