• Posted by : Naurah Deatrisya Minggu, 19 Mei 2019

    TABEL DAN GRAFIK

    Pengertian Grafik

    Grafik adalah gambaran pasang surutnya suatu keadaan atau data yang ada dengan garis atau gambar. Grafik dibedakan menjadi tiga macam, yaitu grafik batang, grafik garis, dan grafik lingkaran. 

    Jenis / Macam-macam Grafik


    a. Grafik Batang adalah lukisan naik turunnya data berupa batang atau balok dan dipakai untuk menekan kan adanya perbedaan tingkatan atau nilai berupa aspek. 
    Grafik dan Tabel (Pengertian, Tujuan, Cara, Contoh, Soal) 
    b. Grafik Garis adalah lukisan naik turunnya data berupa garis yang di hubungkan dari titik-titik data secara berurutan. Grafik ini di gunakan untuk menggambarkan perkembangan atau perubahan dari waktu ke waktu. 
    Grafik dan Tabel (Pengertian, Tujuan, Cara, Contoh, Soal)
    c. Grafik Lingkaran adalah gambaran naik turunnya data berupa lingkaran untuk menggambarkan persentase dari nilai total atau seluruhnya.


    Grafik dan Tabel (Pengertian, Tujuan, Cara, Contoh, Soal)

    Manfaat Grafik :


    1.      Menunjukkan fakta dengan jelas dan mudah dipahami
    2.      Menjadikan proses komunikasi lebih cepat dan menarik

    Langkah – langkah membaca grafik :
     

    1.      Amati judul grafik,
    2.      Amati lajur kanan, kiri, dan bawah,
    3.      Temukan benda yang mencolok pada data tersebut, dan
    4.      Tarik kesimpulan dari data yang disampaikan.

    Pengertian Tabel


    Tabel adalah daftar yang berisi sejumlah informasi berupa kata-kata dan bilangan, yang tersusun berturut ke bawah dalam kolom dan baris tertentu. Untuk menjelaskan isi tabel kita perlu membekali diri dengan pengetahuan yang berkaitan dengan informasi yang disusun dalam baris dan kolom.
          

    Tujuan dibuat tabel :


    1.      Dapat memberikan banyak informasi secara ringkas
    2.      Mempermudah pembaca dalam memahami bacaan

    Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam menafsir tabel :
     

    1.      Mencermati bagian-bagian tabel
    2.      Membaca informasi di sekitar tabel
    3.      Mengajukan pertanyaan tentang isi tabel
    4.      Menafsirkan angka-angka atau data
    5.      Mengaitkan antardata dengan tabel
    6.      Mengambil kesimpulan

    Mengidentifikasi isi tabel.
     

    Perhatikan tabel berikut !

    Jumlah buku di Perpustakaan Gemar 
    No
    Jenis
    Judul
    Eksemplar
    1.
    Cerita anak-anak
    42
    134
    2.
    Novel Remaja
    38
    80
    3.
    Roman
    19
    42
    4.
    Dongeng
    64
    70
    Jumlah
    163
    326









    Simpulan isi tabel tersebut adalah …
    A. Buku cerita anak-anak terbanyak judulnya
    B. Novel remaja setiap judul berjumlah 80 
    C. Jumlah terbanyak adalah buku cerita anak-anak.

    D. Jumlah jenis semua buku lebih banyak 

    BIOGRAFI
    Berbicara mengenai teks biografi, tentunya ada beberapa bagian yang melatarbelakanginya. Demi mempermudah dalam mempelajarinya, pembahasan teks biografi dibagi menjadi 5 pokok bahasan, yang kesemuanya itu akan di ulas sebagai berikut:

    1. Pengertian Teks Biografi

    Teks biografi adalah suatu bentuk teks yang berisi mengenai kisah atau cerita suatu tokoh dalam mengarungi kehidupannya, entah itu berupa kelebihan, masalah atau kekurangan yang ditulis oleh seseorang agar tokoh tersebut bisa menjadi teladan untuk orang banyak.
    Selain biografi, ada juga yang namanya Autobiografi. Autobiografi merupakan suatu riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh tokoh tesebut. Untuk itu, antara biografi dan autobiografi sangatlah berbeda. Perbedaan tersebut dapat ditinjau dari penulisnya, apakah riwayat tersebut ditulis sendiri atau orang lain yang menulisnya.
    (Artikel Terkait: Contoh Teks Eksposisi)

    2. Ciri-ciri Teks Biografi

    • Teks biografi harus memuat informasi berdasarkan fakta pada toko yang diceritakan dalam bentuk narasi
    • Memuat sebuah fakta pengalaman hidup suatu tokoh dalam memecahkan masalah-masalah sampai pada akhirnya sukses, sehingga patut menjadi teladan
    • Teks biografi memiliki struktur yang jelas

    3. Jenis-jenis Biografi

    Berdasarkan Sisi Penulis

    • Autobiografi, Suatu riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh tokoh tesebut.
    • Biografi, Suatu bentuk teks yang berisi mengenai kisah atau cerita suatu tokoh dalam mengarungi kehidupannya, entah itu berupa kelebihan, masalah atau kekurangan yang ditulis oleh orang lain.
    Biografi berdasarkan izin penulisan dibagi menjadi dua:
    • Authorized biography, sebuah biografi yang penulisannya mendapatkan izin atau sepengetahuan tokoh yang akan di tulis cerita hidupnya.
    • Unauthorized biography, biografi yang penulisannya tanpa seizing dan sepengetahuan tokoh yang akan di tulis kisah hidupnya. Biasanya penulisan unauthorized biography terjadi karena tokoh tersebut telah wafat.

    Berdasarkan Isinya

    • Biografi perjalanan hidup, berisi sebuah perjalanan hidup lengkap seorang tokoh atau diambil dari bagian-bagian yang dianggap mempunyai kesan.
    • Biografi perjalanan karir, berisi sebuah perjalanan karir seorang tokoh mulai dari awal hingga karir yang dilakukan saat ini atau bisa juga perjalanan karir dalam mencapai sebuah kesuksesan tertentu.

    Berdasarkan Persoalan yang Dibahas

    • Biografi politik, penulisan cerita hidup tokoh suatu Negara dilihat dari sudut pandang politik. Biografi semacam ini mendapatkan bahan dari kumpulan berbagai riset. Akan tetapi, biografi politik biasanya tidak lepas atau sarat akan kepentingan penulis atau tokoh yang minta untuk ditulis.
    • Biografi intelektual, biografi ini hampir sama dengan biografi politik, persamaannya yaitu kumpulan bahannya yang didapatkan dari berbagai riset. Namun, penulisannya dituangkan dalam gaya bahasa ilmiah.
    • Berdasarkan jurnalistik, sebuah biografi yang penulisannya didapatkan dari hasil wawancara dengan tokoh yang akan ditulis atau tokoh yang menjadi rujukan sebagai bahan pendukung cerita.

    Berdasarkan Penerbit

    • Buku sendiri, sebuah biografi tokoh yang dijadikan buku oleh penerbit dengan biaya produksi mulai dari penulisan, percetakan dan pemasaran ditanggung sendiri. Penulisan biografi ini bertujuan untuk laku dijual dipasaran atau mendapatkan perhatian publik.
    • Buku subsidi, penulisan biografi tokoh yang biaya produksinya ditanggung oleh sponsor. Biasanya biografi seperti jika dilihat dari segi komersil tidak akan laku ataupun jika laku harga jualnya terlalu tinggi sehingga tidak terjangkau.

    4. Struktur Teks Biografi

    a. Orientasi

    Tahap ini adalah bagian pengenalan suatu tokoh, berisi gambaran awal tentang tokoh tersebut di dalam teks biografi.

    b. Peristiwa dan Masalah

    Tahap ini adalah bagian kejadian atau peristiwa yang dialami oleh tokoh. Berisi penjelasan suatu cerita baik itu berupa pemecahan masalah, proses berkarir, peristiwa menyenangkan, menegangkan, menyedihkan hingga mengesankan yang pernah dialami oleh tokoh hingga mengantarkannya meraih mimpi, cita-cita dan kesuksesan.
    Semua kejadian tersebut diurai disini.

    c. Reorientasi

    Tahap ini adalah bagian penutup. Berisi mengenai pandangan penulis kepada tokoh yang dikisahkan. Reorentasi ini bersifat opsional semata, jadi boleh ada maupun tidak ada.

    Unsur Kebahasaan Teks Biografi

    a. Kata Hubung

    Kata hubung adalah kata yang berfungsi sebagai penyambung antara satu kata dengan kata yang lain dalam sebuah kalimat dan juga kata hubung antara satu kalimat dengan kalimat yang lain.
    Apabila kata hubung tersebut berfungsi sebagai penyambung kata dalam sebuah kalimat, kata hubung itu dinamakan konjungsi intrakalimat. Contoh: dan , tetapi, lalu, kemudian.
    Apabila kata hubung tersebut berfungsi menyambungkan antara satu kalimat dengan kalimat lain, kata hubung itu dinamakan konjungsi antarkalimat. Contoh: oleh karena itu, akan tetapi, meskipun demikian, tidak hanya itu.

    b. Rujukan Kata

    Rujukan kata yaitu kata yang merujuk pada kata lain yang sudah diungkapkan sebelumnya. Kata rujukan dikatagorikan menjadi beberapa bagian, antara lain:
    • Kata rujuk benda atau hal. Contoh : ini, itu, tersebut.
    • Kata rujuk tempat. Contoh : disini, disana, disitu.
    • Kata rujuk orang. Contoh : dia, ia, beliau, mereka, -nya.

    c. Peristiwa, Waktu dan Tempat

    Dalam teks biografi, terdapat kata yang berfungsi menunjukkan peristiwa, waktu dan tempat yang dialami oleh tokoh.

    d. Kata Kerja

    Kata kerja atau verba adalah suatu kelompok kata yang menjelaskan sesuatu hal yang dilakukan oleh tokoh. Kata kerja dibagi menjadi dua, yakni berdasarkan bentuk dan berdasarkan jenis.

    Kata Kerja Berdasarkan Bentuk

    1. Kata kerja dasar
    Kata kerja dasar adalah kata kerja yang masih dalam bentuk aslinya, yang berarti kata kerja ini belum mengalami pengimbuhan baik awalan, akhiran ataupun sisipan.
    Contoh : Adil, ambil, ajak
    2. Kata kerja berimbuhan
    Kata kerja berimbuhan merupakan kata kerja yang sudah mengalami penambahan, baik berupa awalan, akhiran, maupun sisipan.
    Contoh :
    Mengambil. Awalan = me + ambil (kata kerja dasar)
    Mengadili. Awalan = meng + adil (kata kerja dasar) + i (akhiran)
    Demikianlah pembahasan teks biografi mulai dari pengertian, ciri-ciri, jenis-jenis, struktur dan unsur kebahasaan yang bisa kamu pelajari. Semoga Bermanfaat!!

    KATEGORI KATA
    Dalam Bahasa Indonesia, ada beberapa kelas kata yaitu :
    1.      Kata Kerja (Verba)
    2.      Kata Benda (Nomina)
    3.      Kata Sifat (Adjektiva)
    4.      Kata Keterangan (Adverbia)
    5.      Kata Ganti (Pronomina)
    6.      Kata Penghubung (Konjungsi)
    7.      Kata Depan (Preposisi)

    1.      KATA KERJA (VERBA)
    Kata Kerja bisa diberikan kata tidak
    Contoh :
    1. Kepala Kantor Pertanahan tidak mengadakan rapat hari ni
    2. Petugas loket itu tidak berada di tempat

    Berdasarkan bentuk kata-nya, Verba dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu :
    a.      Verba dasar, yaitu verba tanpa imbuhan, Contoh : pergi, hadir, duduk, dsb.
    b.      Verba dasar ditambah imbuhan, Contoh : menghadiri, menduduki, membawa, berdiskusi, berbicara, dsb.
    c.       Verba menduplikasi, Contoh : berjalan-jalan, membalik-balik, membaca-baca, dsb.
    d.      Verba majemuk, Contoh : Cuci mata, Naik Haji, dsb.

    Selain itu, Verba juga bisa menjadi Verba Transitif atau Verba Intransitif.
    a.      Verba Transitif : yaitu verba yang memerlukan objek.
           Contoh :
    ·      verba monotransitif :  Dia memeriksa berkas
    ·      verba ditrasitif : STPN menyelenggarakan pendidikan Program Diploma I, program Diploma IV, dan pendidikan Profesi
    b.      Verba Intransitif : yaitu verba yang tidak memerlukan objek.
           Contoh :
    ·      Mahasiswa baru itu duduk di pendopo
    ·      Mahasiswa bermain sepakbola di lapangan

    Sifat verba dalam kaitannya dengan kata lain dapat dikenali dengan melihat fungsi dan jenisnya.
    Melihat Fungsinya :
    Contoh :
    ·      Membaca merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus.(verba sebagai subjek)
    ·      Para mahasiswa sedang belajar membidik (verba sebagai objek)
    ·      Dia merasa bersalah (verba sebagai pelengkap)
    ·      Keluarga itu pergi berwisata (verba sebagai keterangan)

    Melihat Jenisnya : (dalam hubungan verba-nomina)
    a.      Verba aktif : Subjek sebagai sasaran pelaku
                            Contoh : Sekretaris itu mengetik laporan
    b.      Verba pasif : Subjek sebagai sasaran atau penderita
                            Contoh : Pegawai yang rajin itu diberi penghargaan

    2.      KATA BENDA (NOMINA)
    Kata Benda dibedakan atas dasar bentuk dan kategorinya
    Berdasarkan bentuknya, nomina dibedakan menjadi :
    ·         Nomina dasar, contoh : buku, kantor, berkas, kursi, dsb.
    ·         Nomina turunan, contoh :
                            - menggunakan awalan ke- , contoh : kekasih
                            - menggunakan awalan per- , contoh : pertanda
                            - menggunakan awalan pe- , contoh : penulis
                            - menggunakan awalan peng- , contoh : pengantar
                            - menggunakan akhiran -an , contoh : terbitan
                            - menggunakan awalan peng- dan akhiran -an , contoh : pengumuman
                            - menggunakan awalan per- dan akhiran -an , contoh : perundang-undangan
                            - menggunakan awalan ke- dan akhiran -an , contoh : kedudukan
                            - dsb.

    Berdasarkan kategorinya, nomina dibedakan menjadi :
    ·         Nomina bernyawa dan tak bernyawa
    Contoh nomina bernyawa : manusia, kucing, sapi, dsb
    Contoh nomina tak bernyawa : berkas, kantor, kunci, dsb
    ·         Nomina terbilang dan tak terbilang
    Contoh nomina terbilang : empat buku, sepuluh lembar kertas, dsb
    Contoh nomina tak terbilang : air, awan, tinta, dsb

    3.      KATA SIFAT (ADJEKTIVA)
    Adjektiva ditandai dengan kata-kata agak, lebih, sangat, paling
    Berdasarkan bentuknya, adjektiva dibedakan menjadi adjektiva dasar, adjektiva turunan,
    dan adjektiva paduan
    a.      Adjektiva Dasar : beberapa contoh adsjektiva dasar : cantik, cerdas, cepat, disiplin, dsb
    Contoh :
    *          Pengukuran dengan menggunakan teodolit menghasilkan data yang jauh lebih tepat dari pada pengukuran dengan menggunakan meteran
    *          Para pegawai yang tidak disiplin mendapat teguran dari atasannya

    b.      Adjektiva Turunan : beberapa adjektiva turunan seperti : alami, sungguh-sungguh, dsb
    Contoh :
    *        Hasil foto udara tampak lebih alami
    *        Usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, akan mendapatkan hasil yang memuaskan

    c.       Adjektiva Paduan :
    Ajektiva paduan terbagi menjadi dua bagian yaitu :
    1.      Adjektiva paduan koordinatif : setiap kata tidak saling menerangkan, seperti : panjang tangan, murah hati, berkas lengkap, dsb.
    Contoh :
    *       Kepala Kantor mengatakan bahwa berkas lengkap agar segera diproses
    2.      Adjektiva Subordinatif : salah satu kata menerangkan kata lainnya, seperti : rapi jali, cantik molek, dsb
    Contoh :
    *       Mahasiswi yang cantik jelita itu ternyata murah hati juga

    4.      KATA KETERANGAN (ADVERBIA)
    Adverbia memberi keterangan pada verba dan adjektiva.
    Dilihat dari segi bentuknya, adverbia memiliki bentuk tunggal (monomorfemis) dan bentuk jamak (polimorfemis)
    *        Termasuk bentuk monomorfemis adalah : hanya, lebih, segera, agak, akan
    *        Termasuk bentuk polimorfemis adalah : belum tentu, jarang-jarang, benar-benar, kerapkali, lebih-lebih, mau tak mau, mula-mula, tidak mungkin

    Contoh kalimat menggunakan adverbia monomorfemis :
                - Dosen Bahasa Indonesia itu sangat disiplin
                - Petugas Ukur itu hanya melaporkan hasil pengukurannya kepada atasannya

    Contoh kalimat menggunakan adverbia polimorfemis :
                - Wartawan itu jangan-jangan datang ke acara wisuda meskipun tidak diundang
                - Mahasiswa yang pandai itu belum tentu bisa berhasil dalam ujian

    5.      KATA GANTI (PRONOMINA)
    Kata ganti digunakan untuk mengganti kata benda (nomina) sehingga disebut pronomina
    dan mengacu pada nomina lain
    Pronomina ada tiga macam, yaitu :
    - Pronomina persona
    - Pronomina penunjuk
    - Pronomina penanya

    Pronomina persona adalah pronomina yang mengacu kepada orang lain
    *        Persona pertama tunggal : aku, saya, daku, -ku
    *        Persona pertama jamak : kami, kita
    *        Persona kedua tunggal : kau, engkau, anda, kamu, -mu, dikau
    *        Persona kedua jamak : kalian, kalian semua, anda sekalian, kamu sekalian
    *        Persona ketiga tunggal : ia, dia, beliau, -nya
    *        Persona ketiga jamak : mereka, mereka sekalian, mereka semua

    Pronomina penunjuk dibagi menjadi dua macam :
    *        Pronomina penunjuk umum : ini, itu
    *        Pronomina penunjuk tempat : sini, sana, situ

    Pronomina penanya ada tiga macam :
    *        Pronomina yang menanyakan orang : siapa
    *        Pronomina yang menanyakan benda : apa, turunannya : mengapa, kenapa, dengan apa
    *        Pronomina yang menanyakan pilihan : mana, turunannya : di mana, dari mana, bagaimana,                 kemana, bilamana

    Berdasarkan hubungannya dengan nomina, pronomina dibedakan menjadi :
    *        Pronomina intratekstual, yaitu pronomina dalam kaitan dengan teks yang sama
                            Contoh : Pak Amin kepala seksi saya yang baru. Pekerjaannya rapi
                             (-nya mengacu ke Pak Amin)
    *        Pronomina ekstratekstual, yaitu pronomina dalam kaitan teks yang berbeda
                            Contoh : Saya yang mengetiknya

    Berdasarkan referensinya, ada dua pronomina yaitu pronomina tertentu dan pronomina
    tak tentu
    *        Pronomina tertentu yaitu pronomina yang mengacu kepada bentuk personal formal Tertentu, misalnya pronomina pertama tunggal (saya, aku), pronomina ketiga tunggal (ia), pronomina ketiga jamak (mereka)
    Contoh :
    - Petugas Ukur itu pandai. Ia bisa menghitung dengan cepat
    - Pemohon itu bingung. Ia belum tahu cara mengisi formulir permohonan

    *        Pronomina tak tentu yaitu pronomina yang tidak mengacu kepada bentuk persona atau benda tertentu, seperti : beberapa, berbagai, seluruh, semua, dsb
    Contoh :
    - Ada berapa banyak pemohon yang datang hari ini? Ya, ada beberapa orang
    - Mahasiswa STPN berasal dari berbagai daerah di Indonesia

    6.      KATA PENGHUBUNG (KONJUNGSI)
    Konjungsi berfungsi sebagai penghubung bagian-bagian kalimat atau kalimat satu dengan kalimat yang lain. Konjungsi ada dua macam yaitu konjungsi intrakalimat dan konjungsi ekstrakalimat
    *        Yang termasuk konjungsi intrakalimat : agar, hingga, sehingga, sedangkan, tetapi, serta, dsb
    Contoh :
    §   Petugas Ukur itu bekerja keras hingga menjelang senja
    §   Teodolit itu rusak sehingga tidak bisa dipakai
    §   GPS itu perlu diperbaiki supaya bisa dioperasionalkan kembali

    *        Yang termasuk konjungsi ekstrakalimat : jadi, disamping itu, oleh sebab itu, lagipula, walaupun, meskipun, walau begitu, dsb
    Contoh :
    §   Kualitas pelayanan pertanahan masih terus perlu ditingkatkan, oleh karena itu segenap jajaran BPN harus berupaya untuk mewujudkannya
    §   Kasus pertanahan itu sangat rumit, sehingga menyulitkan para pihak yang berusaha untuk menyelesaikannya

    7.      KATA DEPAN (PREPOSISI)
    Preposisi adalah kata yang terletak di depan kata lain sehingga membentuk frasa (kelompok kata yang tidak mempunyai subjek maupun predikat)
    Preposisi ada dua macam yaitu preposisi dasar dan preposisi turunan
    *        Preposisi dasar : di, ke, dari, pada, demi, dsb
    Contoh :
    -  Reforma Agraria perlu dilaksanakan demi kemakmuran bangsa
    -  STPN adalah satu-satunya perguruan tinggi kedinasan di Indonesia
    *        Proposisi turunan : di alinea, di antara, di atas, ke dalam, di mana, dsb
    Contoh :
    -  Penjelasan mengenai sejarah terjadinya konflik pertanahan terdapat di alinea pertama pada Bab V laporan ini
    -  Setelah selesai praktikum Ilmu Ukur Tanah, mahasiswa diminta untuk segera mengembalikan teodolit di atas meja ruang pengembalian alat

    FRASA

    Pengertian Frasa

    Frasa adalah satuan yang terdiri dari dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi kalimat. Frasa tidak bisa membentuk kalimat sempurna karena tidak mempunyai predikat.
    Contoh frasa: Tiga orang mahasiswa baru itu sedang membaca buku di perpustakaan.
    Perhatikan penjelasan fungsi kalimat di atas:
    • Tiga orang mahasiswa (S)
    • sedang membaca (P)
    • di perpustakaan (Ket. tempat).
    Kalimat di atas terdiri atas tiga frasa, yaitu ‘tiga orang mahasiswa’, ‘sedang membaca’, dan ‘di perpustakaan’.

    Ciri-Ciri Frasa

    Untuk lebih memahami materi frasa ini, kamu harus mengerti ciri-ciri frasa berikut ini yang Yuksinau.id dapat, yaitu:
    • Frasa harus terdiri minimal dua kata atau lebih
    • Menduduki atau mempunyai fungsi gramatikal dalam kalimat
    • Frasa harus mempunyai satu makna gramatikal
    • Frasa bersifat nonpredikatif
    • Frasa selalu menduduki satu fungsi kalimat

    Kategori Frasa

    1. Frasa Setara dan Frasa Bertingkat
    Suatu frasa disebut setara jika unsur penyusun nya mempunyai kedudukan yang sama atau setara.
    Contoh: Saya dan adik makan-makan dan minum-minum di taman depan.
    Frasa “saya dan adik” merupakan frasa sama, karena antara unsur “saya” dan unsur “adik” memiliki kedudukan yang setara atau tidak saling menjelaskan.
    Demikian juga frasa “makan-makan” dan “minum-minum” termasuk frasa setara.
    Frasa setara ditandai oleh adanya kata ‘dan‘ / ‘atau‘ di antara kedua unsur nya.
    Selain frasa setara, ada pula frasa bertingkat. Frasa bertingkat merupakan frasa yang terdiri atas inti dan atribut.
    Contoh: Kakak akan pergi nanti malam.
    Frasa “nanti malam” terdiri atas unsur atribut dan inti.
    2. Frasa Idiomatik
    Perhatikan 2 kalimat dibawah ini:
    (a) Dalam peristiwa kebakaran kemarin, seorang penjaga toko menjadi kambing hitam.
    (b) Untuk menyelamati saudaranya, keluarga Pinto menyembelih seekor kambing hitam.
    Kalimat (a) dan (b) menggunakan frasa yang sama, yaitu frasa ‘kambing hitam‘.
    Pada kalimat (a) kambing hitam bermakna orang yang dipersalahkan dalam suatu kejadian, sedangkan dalam kalimat (b) bermakna seekor kambing yang mempunyai warna bulu hitam.
    Makna kambing hitam di kalimat (a) tidak ada hubungannya dengan makna kata kambing dan hitam.
    Nah frasa yang maknanya tidak bisa dijelaskan berdasarkan makna kata yang membentuknya dinamakan frasa Idiomatik.

    Konstruksi Frasa

    Frasa mempunyai 2 konstruksi, yaitu konstruksi endosentrik dan eksosentrik.
    Perhatikan kalimat berikut: Kedua saudagar itu telah mengadakan jual beli.
    1. Frasa Eksosentrik
    Kalimat tersebut terdiri dari frasa ‘kedua saudagar itu’, ‘telah mengadakan’ dan ‘jual beli’. Menurut distribusi nya frasa ‘kedua saudagar itu’ dan ‘telah mengadakan’ adalah frasa endosentrik. Sedangkan frasa ‘jual beli’ adalah frasa eksosentrik.
    Frasa kedua saudagar itu bisa diwakili kata saudagar. Frasa telah mengadakan juga bisa diwakili kata mengadakan.
    Tetapi frasa jual beli tidak bisa diwakili oleh kata jual maupun beli, Karena kedua kata tersebut merupakan inti, sehingga mempunyai kedudukan yang sama.
    Frasa yang distribusinya tidak sama dengan salah satu atau semua unsurnya disebut frasa eksosentrik.
    2. Frasa Endosentrik
    Meliputi 3 jenis yaitu:
    • Frasa Endosentrik yang Koordinatif: dihubungkan dengan kata “dan” dan “atau”. Contoh: Pintu dan jendela sedang dicat.
    • Frasa Endosentrik yang Atributif: tersusun dari unsur-unsur yang tidak setara. Contoh: Pekarangan luas yang akan didirikan bangunan itu milik Haji Manarul.
    • Frasa Endosentrik yang Apositif: secara semantik, unsur yang satu pada frasa endosentrik apositif mempunyai makna sama dengan unsur yang lain. Unsur yang dipentingkan merupakan unsur pusat, sedangkan unsur keterangan merupakan aposisi. Contoh: Arum, putri Pak Ruchan, berhasil menjadi pelajar teladan.

    Kelas Frasa

    Frasa terbagi jenisnya menjadi 6 kelas kata. Meliputi frasa benda, kerja, sifat, keterangan, bilangan, dan depan.
    1. Frasa Benda atau Frasa Nomina
    Frasa yang distribusinya sama dengan kata benda. Unsur pusat frasa benda, yaitu kata benda.
    Contoh:
    • Bara menerima hadiah ulang tahun.
    • Bara menerima hadiah.
    Alasannya karena frasa hadiah ulang tahu di kalimat distribusi sama dengan kata benda hadiah.
    2. Frasa Kerja atau Frasa Verba
    Frasa yang distribusinya sama dengan kata kerja atau verba.
    Contoh: Arum sejak tadi akan menulis dengan pensil baru.
    Disebabkan karena frasa akan menulis adalah kata kerja dan distribusinya sama dengan kata kerja menulis.
    3. Frasa Sifat atau Frasa Adjektiva
    Frasa yang distribusinya sama dengan kata sifat. Memiliki inti berupa kata sifat. Kesamaan distribusi tersebut bisa dilihat dari contoh frasa berikut.
    Contoh:
    • Lukisan yang dipamerkan itu memang bagus-bagus.
    • Lukisan yang dipamerkan itu-bagus-bagus.
    4. Frasa Keterangan atau Frasa Adverbia
    Frasa yang distribusinya sama dengan kata keterangan. Umumnya inti frasa keterangan juga berupa kata keterangan dan dalam kalimat sering menduduki fungsi sebagai keterangan.
    – Frasa keterangan sebagai keterangan
    Frasa keterangan umumnya mempunyai keleluasan berpindah karena berfungsi sebagai keterangan. Sebab itu frasa keterangan bisa terletak di depan atau belakang subjek.
    Contoh:
    • Tidak biasanya dia pulang larut malam
    • Dia tidak biasanya pulang larut malam
    • Dia pulang larut malam tidak biasanya
    – Frasa keterangan sebagai keterangan pada kata kerja
    Contoh: Saya tidak hanya bertanya, tetapi juga mengusulkan sesuatu
    5. Frasa Bilangan atau Frasa Numeralia
    Frasa yang distribusinya sama dengan kata bilangan. Biasanya frasa bilangan atau frasa numeralia dibentuk dengan menambahkan kata penggolong atau kata bantu bilangan.
    Contoh: Tiga orang serdadu menghampirinya ke tempat itu.
    6. Frasa Depan atau Frasa Preposisional
    Frasa yang terdiri atas kata depan dengan kata lain sebagai unsur penjelas.
    Contoh: Laki-laki di depan itu mengajukan pertanyaan kepada pembicara.
    Frasa Yang Bersifat Ambigu
    Ambiguitas kadang ditemukan dalam susunan frasa. Ambiguitas berarti kegandaan makna.
    Contoh: Kambing hitam dan mobil tetangga baru.
    Frasa kambing hitam bisa memiliki 2 makna yaitu kambing yang berbulu.
    Frasa kambing hitam bisa memiliki 2 makna yaitu kambing yang berbulu hitam dan suatu ungkapan yang berarti orang yang dipersalahkan.
    Frasa mobil tetangga baru juga bisa mempunyai 2 makna, yaitu yang baru adalah mobil dan yang baru adalah tetangganya (bukan mobilnya.
    Frasa ambigu akan menjadi jelas ketika digunakan dalam kalimat.

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

  • - Copyright © Media Pembelajaran Online Naurah Deatrisya - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -